Ada bapak-bapak di atas jpo, karung isi gelas plastiknya penuh. Duduk bersandar menatap lautan kendaraan di bawah, berlaju-laju berdesakan menuju rumah. Ada adik-adik tak jauh, duduk meringkuk dengan baju biru tua kesukuannya, ada gelas di bawahnya, bisa kau masukkan koin kalau kenan. Ada supir bus yang meneriaki kernetnya karna tak kunjung lekas "sudah cepat, tidak usah ditunggu penumpang yang berlama-lama! " kemudian ia menginjak gas. Dari balik jendela bus yang supirnya marah-marah, kau lihat seorang bapak mendorong gerobak rujak, dagangannya habis.
Berbelok sedikit, kau lihat gedung-gedung, lampunya gemerlapan, diam-diam kau mimpi suatu saat digaji besar dengan duduk-duduk di balik meja di salah satu lantai tingginya, menghadap ke luar dengan jendela lebar, ke pucuk-pucuk gedung di seberang jalan-atau ke bawah, di sana manusia lalu lalang berebutan asap ibu kota.
Kota ini meniupkan napas yang berbeda-terasa aneh, terasa dekat, dan familiar. Terlalu banyak ragam perasaan di raut muka orang-orang yang berpapasan. Kota ini menghimpun terlalu banyak rasa manusia, di sela-sela klakson dan pelanggar-pelanggar lampu merah. Terlalu banyak, hingga kemudian kaupun jadi lupa tentang rasa. Lupa cecap nya, dan semua yang kau lihat sepanjang perjalanan pulang tadi tinggal adegan-adegan yang tak terekam lama dalam ingatan, terasa hambar. Lama-lama kau jadi pelupa. Semua jadi rutin, kau pulang dan pergi, yang lain jadi sekelebatan. Tak meninggalkan apapun, malah menagih desak waktumu. Maka suatu hari kau sampai rumah, lelah, dan mengingat-ingat dengan resah: "Rasanya aku tidak dapat apa-apa dari perjalanan ini"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Post!