Nebula
5.4.19
Dari balik jendela di atas bus menuju rumah
Berbelok sedikit, kau lihat gedung-gedung, lampunya gemerlapan, diam-diam kau mimpi suatu saat digaji besar dengan duduk-duduk di balik meja di salah satu lantai tingginya, menghadap ke luar dengan jendela lebar, ke pucuk-pucuk gedung di seberang jalan-atau ke bawah, di sana manusia lalu lalang berebutan asap ibu kota.
Kota ini meniupkan napas yang berbeda-terasa aneh, terasa dekat, dan familiar. Terlalu banyak ragam perasaan di raut muka orang-orang yang berpapasan. Kota ini menghimpun terlalu banyak rasa manusia, di sela-sela klakson dan pelanggar-pelanggar lampu merah. Terlalu banyak, hingga kemudian kaupun jadi lupa tentang rasa. Lupa cecap nya, dan semua yang kau lihat sepanjang perjalanan pulang tadi tinggal adegan-adegan yang tak terekam lama dalam ingatan, terasa hambar. Lama-lama kau jadi pelupa. Semua jadi rutin, kau pulang dan pergi, yang lain jadi sekelebatan. Tak meninggalkan apapun, malah menagih desak waktumu. Maka suatu hari kau sampai rumah, lelah, dan mengingat-ingat dengan resah: "Rasanya aku tidak dapat apa-apa dari perjalanan ini"
2.7.18
Tentang Rencana-Rencana
Dulu pas sma saya pernah banyak menemukan perdebatan batin yang berujung pada curhatan di notes facebook, tentang lanjut S2 atau... menikah. Saya sendiri dulunya sempet enggan lanjut S2, karna aduh capek2 kuliah 4 tahun masa masih kurang. Tapi as times go on, semakin besar saya mendapati apa yg saya dapat di S1 rasanya kurrraaaaang banget. Ternyata 4 tahun saja tidak cukup. Banyak isu isu perkotaan yg semakin butuh penjelasan, penjabaran, pendapat, dan wawasan yang mendalam. Ah mungkin saya saja yg kurang banyak baca. Lalu keinginan untuk memperdalam ilmu semakin menguat. Sayangnya, dari pengalaman2 orang terdekat saya, dari lulus S1 lanjut S2, rupanya tidak mudah langsung mendapat pekerjaan. Saya dengar, masih ada stigma "perusahaan takut menerima lulusan master karna harus membayar tinggi mereka, tanpa melihat pengalaman mereka". Paling banter yg ditawarkan adalah peran sebagai akademisi, alias dosen. (Nggak, saya tidak beranggapan menjadi dosen adalah last choice, saya percaya menjadi dosen adalah pekerjaan yang mulia-well saya sendiri ingin kok jadi dosen.) Jadi saya merasa pengalaman bekerja itu sangat penting, dan saya meneguhkan tekad untuk dapat pengalaman sebanyak2 nya, mengenal dan menjalani profesi perencana yg sebenarnya. Satu atau dua tahun lah. Lalu, setelah itu, saya harus lanjut kuliah. Harus. Kalo ditanya pengen kemana, hmm sebenernya tahun 2010 lalu saya punya target 5 tahun ke depan alias paling lambaaat tahun 2015, harus ke eropa. Dan. Ternyata. Gagal. Hm sebenernya saya pantas gagal sih, karna kesibukan2 ala mahasiswa cupu yang sok butuh lahan untuk aktualisasi diri, saya melupakan target pribadi saya itu. Dan di penghujung 2015, rasanya saya malu. Malu pada target yg saya tempelkan di pintu lemari saya 5 tahun yang lalu. Yang gagal di centang: [ ] tour de la europe. Jadi saya ingin kuliah di eropa. Pingin banget. Beberapa kampus idola sudah saya kantongi namanya. Hm. Tapi saya tahan2 dulu, semuanya harus terencana, harus sesuai rencana. Sembari menyelesaikan studi S1 ini, saya harus mempersiapkan diri untuk dunia luar. Yang katanya idealisme mu akan dibenturkan dengan realita-bengkok atau pecah? Lalu nanti sambil bekerja, saya harus tetap ingat pada mimpi saya selanjutnya, be la jar. Katanya, "kalo udah kerja biasanya keenakan, trus lupa kalo mau lanjut sekolah". Well, saya harap saya nggak akan begitu. Saya harap mimpi ini gak akan semudah itu padam karna keasyikan punya uang. Terus.. Datanglah pertanyaan selanjutnya. "Lho, kalo gitu kamu nikahnya kapan ten?" Pertanyaan ini 3-4kali udah terlontar oleh orang2 disekitar saya, termasuk ibu saya. Well, saya ketawa2 aja sambil bilang, "tenang, nanti aku nyari beasiswa yang biayain keluarga, jadi ntar kuliah sambil bawa suami wgwg" gak ding, becanda. Yah saya belom siap2 amat mikirin pernikahan. Saya masih ingin egois. Lalu suatu hari yang hujan, saya terjebak dengan dialog 2 orang bapak2 yang membicarakan anak perempuan salah satu dari mereka, yang akan lulus master, dan belum juga menikah. Bapak 1 menasehati, "anak bapak jangan dibiarin enak2an seneng2 nimba ilmu lho Pak. Semakin tua dan semakin tinggi pendidikannya, semakin arek lanang iku wedi mau melamar" Bapak 2 menjawab, "iyo pak, ini nanti tak paksa harus lamaran sebelum wisuda. Dan gak tak bolehin ambil S3 dulu" Well...saya sering denger yang begini. Bahwa wanita dengan background pendidikan tinggi cenderung ditakuti oleh lelaki. Hm.. saya ini belum jadi orang baik, belom pantes menjadi orang yang berbakti dan menyerahkan seluruh takdir,lahir,dan batinnya pada seorang imam, belom juga pantas mendidik seorang yang nantinya memanggil saya ibu. Teman saya pernah share gambar di grup yang isinya "seorang anak diwariskan tingkat intelektualitas dari 1 gen kromosom ibunya. Maka untuk lelaki, carilah calon istri yang pandai, bukan yang cantik". Well, i do not take notes about the last sentence, tapi yang jelas saya setuju dan percaya, seorang anak yang cerdas secara intelektual lahir dari ibu yang cerdas pula. Dan saya rasa saya bukan orang yang cerdas, padahal menjadi pendidik pertama seorang anak adalah kewajiban saya nantinya. Karnanya, setidaknya saya harus membekali diri dengan suplai wawasan sebanyak mungkin. Karna saya bertanggungjawab atas pendidikan dan masa depan seorang anak nantinya. Jadi, apa yang salah dari memperkaya diri dengan sebanyak2nya pengetahuan dan pengalaman, untuk nantinya menjadi ibu yang mampu memotivasi anak2nya dengan cerita2 bergizi dari perjalanan hidupnya? Saya emang sedikit takut telat mendapat jodoh (lol) karna life plan ini. Tapi saya percaya Allah perencana takdir terbaik, dan saya berserah atas qodho dan qodarNya. Saya percaya yang saya rencanakan, jalani, dan saya harap akan terlaksana nantinya, akan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang2 disekitar saya. Saya percaya bahwa: "The biggest mistake you can make is removing jewels from your crown, to make it easier for a man to carry. You do not need a smaller crown--you need a man with bigger hands" So yeah. Bismillah, semoga rencana2 ini terealisasi. Tanpa ada ragu2 dan ketakutan akan masa depan.
6.8.17
This girl once again asked to stop the time
But then she came to our family, took over my position as the youngest and spoiled-est. My young lil sister. She was the one i secretly took to accompany me taking my T-shirt on second floor at the peak of maghrib time, even when she was asleep, only because i was too afraid going there by myself. She was the one i idly showed my love to, but surely i do love her much, i just dont want to spoil her or simply bcs i just cant express affectionate action.
Now we were scattered and i was alone again, and for the second time i do want to stop the gushing time. It wont, of course.
Its true that we reflect ourselves leaving our young skin by watching someone else's growing up too (wow, i realize i am much older now that i see her all grown up!). Living at the present they say, but i am still in awe how time has changed me and people around me. And it takes so much guts to keep walking on this puzzling adulthood.
I wish i could freeze the time.
~
Just realized I never set good writing provides in prologue-main issue-epilogue systematically. But uh at least i tried to spill my chaotic thought here ketimbang q express it randomly on my Instagram Story where people are clueless about me. I chose to post it here, hide on this public yet personal sanctum on my very own diary hehe