2.1.14

Buat si Pujangga Bangsa

Hari ini masih ku lihat wajah-wajah itu muram
wajah mereka yang dulu pernah bersuara lantang,
wajah mereka yang dulu pernah menggulingkan tiran
dan wajah mereka yang pernah menyebut dirinya pro rakyat
Entah apa yang larut dalam pikiran mereka,
mungkin beban terlalu berat di kedua pundak
beban yang disematkan atas peran fungsi mahasiswa
Mahasiswa kini tak lebih hanyalah sebuah identitas
dan hanyalah alat dari sebuah sistem bernama pemerintah
dijejali apa yang diingini,
dituruti apa yang dikehendaki
terlena tapi berbahagia,
dilema tapi menerima
idealisme bukan lagi sesuatu yang mewah,
bukan pula seperti apa kata Tan Malaka.
Karna hanya tinggal menunggu waktu
hingga idealisme itu akan tergadai hanya karna harta maupun tahta


Waktu boleh saja berlalu
generasipun boleh saja berubah
tapi tak bisa diingkari
sejarah adalah penguasa
Maha mencatat yang fakta maupun retorika
mulai dari tanam paksa yang dicetus Belanda,
romusha yang dipelopori Nippon,
hingga penguasa negeri yang nyaris abadi
tak pernah tersentuh tak mungkin tergoyah
Inikah negeri yang katanya menjunjung tinggi demokrasi?
Aaaah... masak...
Lihat saja rakyatnya,
tertindas
tersiksa
tinggal di bawah jembatan dengan begitu berani
hidup di bantaran kali dengan begitu nyaman
inikah yang disebut vivere pericoloso?
dua kata yang dengan lantang pernah diorasikan Soekarno pada 1964?
atau hanya refraksi arti dari sebuah orasi?
negeriku sayang negeriku malang,
masihkah kau berdiam seperti ini,
tak bosankah kau dengan irama takdirmu?


Sampai saat itu tiba
dengan segala cinta dan keindahannya
akankah semua menjadi yang dicitakan
atau cita-cita hanya menjadi cerita saja,
cerita yang tak pernah ada ujungnya
Untukmu yang tertawa di atas sana,
masihkah kau asyik mendengar nada sumbang jerit tangis rakyatmu?
seolah jerit mereka adalah tawamu,
seakan tangis mereka adalah bahagiamu
Untukmu yang tak lagi lantang bersuara,
yang kini telah lama tak lagi mesra
bukan perkara yang baru atau yang lama
bukan pula perkara benar atau salah
tapi ini perkara cinta
ketika yang berkuasa mulai mengenal cinta,
namun yang dicinta telah mencinta yang lantang bersuara
akankah satu cinta harus mengalah?
atau dengan egonya lebih memilih pertumpahan darah?

Astalina, 22 Desember 2013

*puisi yang dibacakan temen2 Kementrian Kebijakan Publik Bem ITS 2013/2014 :)

Alangkah hebatnya kamu yang berdiri, tegap, berteriak di atas panggung. Kau tak membentak. Kau hanya sedang meneriakkan isi secarik kertas. Puisi. Tentang cinta.

Tidak, kamu tidak sesempit itu bicara tentang cinta. Kamu menyerukan cinta pada bangsa. Pada negara. Pada rakyat Indonesia.
Membius ratusan pasang mata, meremangkan bulu kuduk siapa saja, dan mengenyuhkan hati kami semua.
Mengerdilkan kami yang berpandang sempit, yang peduli pada teman sebelah pun ogah.

Kamu adalah setitik kecil manusia,puisimu mungkin cuma jadi kalimat2 usang ataupun retorika semata. Tapi tidak, kepedulianmu, kesungguhanmu, dan janjimu pada bangsa, menggetarkan jiwa, mengoyak kantung semangat, dan menarik paksa kami..untuk turun tangan. Menyuarakan dan mempraktekkan seluruh cinta yang kami punya. Untuk dia, ibu kita, Indonesia.


Surat ini untuk kamu. Kamu. Kamu. Si pujangga bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post!