14.10.13

Kalau

Sadar nggak sih seringkali kita memilih sesuatu yang "wajar untuk dipilih" di atas sesuatu yg lebih esensial?

Simpelnya gini, Saya suka banget "manas". Sepanas-panasnya Surabaya itu tetep kerasa anget dan bikin semangat. Suka sekali nyetir motor sambil dipeluk matahari jam dua siang. Tapi lalu saya mulai peduli pada punggung tangan yang menghitam, belang-belang.

Dan pelan-pelan saya menjauhi matahari. Keluar rumah, jauh dekat saya memasang tameng; masker, kaus kaki, sarung tangan, jaket, helm. Wajar? Jelas wajar! Namanya juga cewek, peduli penampilan itu sah. Dan nyaris wajib.
Sayangnya, saya jadi kehilangan momen2 simpel itu--yang kayaknya cuma saya sendiri yang bisa ngerasain.

Contoh kedua. Saya suka sekali ada di tumpukan buku. Oke, agak freak, tapi saya suka sekali bau buku, yang baru--masih bau toko--atau yang sudah bau-bau rayap. Jadilah saya diem-diem ingin jadi pustakawan. Yang merapikan buku-buku, mendaftar buku-buku menurut kategori tertentu, mencatat keluar masuk buku. Aktivitas yang kayaknya nenek-nenek-penjaga-perpus-bgt. Tapi lalu saya mulai peduli pada kesempatan kerja, perusahaan-perusahaan multinasional enggak butuh nenek-nenek berkemoceng tukang beres-beresin buku.

Dan pelan-pelan saya menjauhi rak-rak. Cari aman saja, cari jurusan yang probabilitas kesempatan kerja nya mayan besar. Wajar? Jelas wajar! Memangnya nanti kalo gede kamu mau hidup makan apa? Buku?
Sayangnya, saya jadi kehilangan angan-angan dekat dengan rak-rak tinggi dan buku-buku besar.

Kalau saja kita tidak terlalu "manusiawi", hidup dengan indikator-indikator kewajaran yang ditetapkan nyaris universalis, mungkin kebahagiaan dapat dengan mudah digapai.
Pun hanya dengan berkendara tanpa sarung tangan. Pun hanya dengan pekerjaan bergaji pas-pasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post!