4.5.13

Self Defence Mechanism?

Sebuah pembicaraan absurd di atas bus mini menuju lokasi kuliah lapangan. Intinya, temen dudukku (sebut saja Bunga) cerita dengan tema khas abege puber: galau--tentang tekadnya buat move on. Ya, move on, kata-kata booming yang biasanya diucapin sambil nelangsa-nelangsa gimana gitu.

Jadi, si Bunga ini memang lagi suka sama cowok (sebut saja Budi). Kalo dari cerita2 sebelumnya, Bunga-Budi ini sebenernya lumayan ada chemistry *alaaaa~ Tapi oh tapi, kalo ditilik lebih dalam menggunakan metode analisis kondisi lapangan, sebenernya Budi itu tipikal cowok yang baik ke semua orang. Care sama semua orang, sama rata. Gak heran banyak yang naksir dia. Bunga jadi takut nebak-nebak. Dan akhirnya bilang dia pengen move aja.

Bunga mundur teratur. Takut kalo terlibat lebih jauh, makin besar resiko dia bakal jatuh. "Kalo kata Mawar *censored* ini namanya self defence mechanism Ten."

Googling, dan kata mrs. wiki arti kalimat di atas adalah defence mechanisms (or defense mechanisms) are psychological strategies brought into play by the unconscious mind[1] to manipulate, deny, or distort reality (through processes including, but not limited to, repressionidentification, orrationalization),[2] and to maintain a socially acceptable self-image or self-schema.

Jadi simpelnya, self defence mechanism tuh semacam trik untuk memanipulasi (baca: membohongi diri sendiri) akan suatu realita. Dan dalam kasus si Bunga, dia tengah defensive dengan pertahanan perasaannya. Membentengi hati mungkin? *alaaa~
Wow dahsyat.

Out of the case, pernah gak sih suka sama orang tapi nahan-nahan? Ngerem-ngerem biar perasaan itu nggak meluap-luap, ketahuan, atau syukur-syukur bisa hilang. Ber-alibi, takutnya nanti jatuh sampe lebam-lebam. Alibi yg wajar banget.

Setiap orang berhak kan memutuskan untuk melindungi dirinya dari kemungkinan bakal celaka?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post!