7.5.13

Realita, realistis, jatuh cinta, dan saya

Sedang baca buku tentang travelling. Dan pengalaman-pengalamn yg didapet penulisnya selama perjalanan. Tentang pola sosial masyarakatnya, tentang modern/tradisionalitas kota-kota di berbagai negara, tentang cerita-cerita jatuh cinta. Hm, mau bahas yg terakhir deh.

Jadi, baru saja ngeliat twit temen cewek muncul di temlen. Twitnya bawa-bawa kata khas orang kasmaran: rindu.
hari ini enggak, besok enggak, kamis jumat sabtu minggu enggak, jadi nunggu senin. Oke aku harus sabaaaar bar bar =))
padahal..... ngga jauh, tapiiiii Rindu.


Oke, fix dia lagi jatuh cinta, atau paling enggak, lagi naksir orang. Twitnya emang sederhana, tapi tersirat banget ada yg "membuncah-buncah" dari balikk kalimatnya *oke, alay* Klise. Saya kangen jaman-jaman "naksir" orang. Jaman-jaman suka "mengotori" timeline dengan kata-kata manis yg serba puitis. Ada pikir-pikir sambil senyum-senyum sendiri di balik layar monitor, mencari-cari kata yg pas buat mendeskripsikan perasaan terkini. Ada meringis-meringis malu pas curhat di blog, tentang "orang lain".

*Ini pasti kalo adel dkk baca ini pasti ketawa ngakak nih*

Engga loh, saya nggak lagi ngebet pacaran apa taksir-taksiran sama orang. Saya cuman kangen bercerita ke salah satu teman tentang "orang lain". Saya cuman kangen menulis objek tentang "orang lain".

Menurut saya, naksir orang itu adalah satu cerita romantis tersendiri-terlepas dari "orang lain" itu naksir balik apa enggak. Karna ketika kita naksiir orang, papasan di lorong pun sudah jadi satu scene yg bikin hati berbunga-bunga. Mata ketemu mata sepersekian detikpun udah sanggup bikin jantung lompat-lompat kegirangan. Satu komentar atau retweet-an di sosmed pun udah bisa bikin ketawa-ketawa sendiri seharian. Yup, those feelings. Those moments. 

Jujur ini agak nggilani. Saya kangen perasaan-perasaan dan momen-momen lucu itu (sekali lagi, terlepas dari sang objek bales perasaan saya atau enggak). Saya kangen sensasi menunggu-nunggu pagi berikutnya datang, menebak-nebak apakah hari itu akan berakhir dg menyenangkan. Saya kangen dagdigdug sendirian stalk sana sini, bolak-balik new tab ini itu di profil dia. Saya kangen kepala nengok-nengok kanan kiri depan belakang, cari-cari posisi dia.

Yes, ini sangat nggilani.

Sedikit keluar dari topik...
Saya pernah menulis ttg beberapa hal yg berhubungan dengan ekspektasi. Saya menegaskan saya tak mau capek-capek memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Engga tahu kenapa, waktu mengajarkan saya tumbuh menjadi orang yang.... terlalu realistis(?) Mungkin juga bisa dibilang pesimis. Dalam semua hal.
Ini seperti jadi pagar pembatas bertegangan tinggi yg siap nyetrum saya telak-telak, ketika saya berpikir tentang sesuatu yg sedikit impi-impi. Seolah nggak memperbolehkan saya berangan-angan, mengarang-ngarang.

Pagar bertegangan tinggi itu sebenarnya nggak bermaksud jelek. Dia cuma nggak mau nantinya saya celaka lebih parah. Sudah jadi tugasnya untuk memperingatkan dan menghalang-halangi saya. Sayangnya, saya merasa karakter ini membuat saya menjadi sekeras baja.

Dan kini saya cuma ingin menjadi sebuntal spons. Yang tak menolak apa-apa disekitarnya, yang cukup menerima apa adanya, yang tak peduli apakah lamunannya itu terlalu jauh dari nyata....
Karna ternyata, menerima semua tanda-tanda dan menerjemahkannya menjadi sesuatu yg "ilmiah" dan nyata....itu melelahkan.

...Udah ah, ini postingan paling nyampah deh haha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post!