6.4.13

Maturity

Belakangan disibukkan dengan satu kata ini, dewasa. Ada beberapa teman dekatku di kampus yang bilang aku dewasa.

Oke. Sebenarnya dewasa itu relatif. Banyak kriteria yang berbeda-beda bagi beberapa orang untuk cukup layak menerima cap dewasa. Umur 17 tahun, bisa kok dibilang dewasa. Sudah "boleh" nonton film dewasa. Punya penghasilan sendiri, boleh juga dibilang dewasa. Nggak lagi-lagi ngerepotin orangtua. Punya ribuan stok kalimat-kalimat bijak, bisa juga  disebut dewasa. Motivasi orang sana-sini, nasihat ini-itu. Nah, dewasa itu relatif.

Menurut pemahamanku, dewasa itu sikap dan bertindak. Di mana kamu bisa bersikap stabil, terkontrol, dan bertindak seperti seharusnya, selayaknya, sewajarnya. Dan akhir-akhir ini aku ngerasa semakin enggak dewasa. Sering banget tahu-tahu emosi naik turun, nggak terkontrol. Sering banget tahu-tahu ngerasa lemes gak berguna trus jadi pengen mojok sendiri. Sering banget di tengah-tengah ngerjain laporan yang segambreng, tahu-tahu ada pikiran nyentak: aku ini ngapain?

Banyak orang bilang, tiap manusia pasti ada waktunya merasa bukan siapa-siapa. Katanya, ini proses pencarian jati diri. Oke, klasik. Tapi ini yang bikin frustasi. Aku selalu takut apa yang aku kerjakan nggak akan berarti apa-apa buat masa depan. Aku selalu memutar skenario tentang "besok lusa aku bakal nyesel." Aku takut apa yang aku pilih kemarin lalu, bakal merubah sketsa hebat tentang masa depan. Aku takut sampai tua nggak menemukan apa yang aku inginkan.

Seperti saat ini, di mana aku merasa menyesal memilih jurusan. Bukan apa-apa, tapi karna ada selintas pikiran: ini ta yang kamu inginkan?
Karna ada selintas pikiran setiap kali memulai tugas yang "cuma" sekedar laporan: ini ta passionmu?
Karna ada selintas pikiran setiap kali mencari data survey: ini ta  yang harus kamu lakukan sampai tiga taun kedepan?
Lalu ketika aku menyelesaikan matakuliah satu semester, selama ini aku dapet apa?

Kedengeran kayak orang yang nggak tahu rasa syukur&terimakasih ya? Krisis.

2 komentar:

  1. Aku lebih suka kamu yang dulu, ten. Jiwa kekanak-kanakanmu bikin duniamu jadi hidup. Aura positif khas kekanak-kanakanmu menularkan tawa dan semangat buat orang terdekatmu. Jangan berubah ya ten :D
    Dalam jiwa anak-anak, ada energi, passion dan potensi yang nggak akan pernah mati.

    BalasHapus

Post!