10.5.12

Satu Scene, "Dia" by Nonier

Dia duduk di antara mereka. Menggosok kedua telapak kakinya untuk membersihkan debu. Bernapas panjang dua kali. Dan dia siap dibantai.

"Jadi, kalian mau apa?" tanya Denia. Dia harus menyerang sebelum dihabisi.

"Apa penjelasanmu mengenai foto-foto iti Den? Kamu suka pada Janu? Kamu mencintai dia?" Bibir Sasa bergetar mengatakannya.

Denia menatap Janu. Setelah mengatakan ini mungkin akan terjadi banjir bandang, wabah kolera, atau semacamnya, tapi bagaimanapun itu akan berlalu pada akhirnya. So, just go for it. "Ya."

Mila berhenti mondar-mandir, Sasa meremas tasnya dan Janu berhenti bernapas.

Lalu, Sasa mulai menangis dan Janu harus menenangnkannya.

"Kenapa sih harus menangis, bukannya aku yang seharusnya menangis?" Denia menyerahkan tisu dari dalam tasnya kepada Janu untuk diberikan pada Sasa. Tapi Sasa malah membuangnya. "Mungkin kalian harus melihat dari sisiku."

"Apa kau bilang?!"

"Mil, diam dulu. Oke, aku sayang sama Mas Janu. Lalu kenapa? Apa menyayangi seseorang itu salah? Toh aku tidak melakukan hal-hal yang menyakiti perasaan orang. Justru malah aku yang sakit. Aku menyimpan rasa itu sendiri, bertahun-tahun. Rasa yang selalu kutekan dan kujaga agar selalu berada dalam porsi yang benar. Karena aku masih waras. Menurut kalian, bagaimana perasaanku saat tahu Mas Janu menyukai orang lain? Bagaimana perihnya hatiku saat kalian bertunangan? Kalian hanya tahu dari foto tetapi tidak ngerain yang di dalam sini. Aku sedih dan patah hati sendiri." Denia harus mengatur napas dulu karena air matanya bulai berproduksi.

"Sekarang kutanya, apa aku protes saat Mas Janu mengatakan mencintai Mbak Sasa? Apa aku melarang dan merusak pertunangan kalian? Apa aku mengganggu dan menjadi orang ketiga? Tidak. Aku pergi dari kalian. Menjauh dalam diam. Aku mencoba menghapus perasaanku pada Mas Janu. Aku mengakhirinya sendiri."
Sekarang sudah tidak bisa ditahan lagi, Denia menangis.


***

Best part banget! Hey Denia, I feel you.
Mungkin aku bukan tipikal orang yang pada akhirnya langsung asal hajar aja bunuh diri dengan pernyataan cinta blak-blakan di depan musuh, gila apa -_- tapi sumpaaaah aku acungin dua jempol tangan dan dua jempol kaki buat keberanian si tokoh fiktif itu menyampaikan perasaannya di scene itu. Dan.... paragrap penuh yang aku italic itu emang satu paragrap penuh yang dulu pengennya aku teriakin ke muka sepasang kekasih hmmmm :3 Eh tapi itu dulu ding, ini udah jaman serba modern serba komputerisasi, nggak jaman laaaah terjebak perasaan sendiri.
Ini jamannya pemuda pemudi menggiatkan move on! Aih :'''')

1 komentar:

  1. Halo, Atina. Makasih udah posting DIA.
    Oh ya, novel terbaruku awal Desember 2015 ini beredar di toko buku, judulnya LOVE LETTER AND LEUSER, terbitan Gramedia. Semoga kamu juga suka :)

    BalasHapus

Post!