31.1.12

Yang mereka rasakan, yang tidak kita perhatikan

Aku sebut itu murni keberuntungan pas temen bilang timku masuk semifinal olim fisika di teknik fisika its. Bener-bener keberuntungan, dan buat aku, nggak cukup pantas buat dibangga-banggain. Gimana gak beruntung, dari 75 soal yang aku sama Gita kerjain cuman 12, dan itupun nggak bener-bener mantep yakin bakal bener semua.

Jadi siang itu pas istirahat kedua abis solat duhur, aku masuk kelas klewas-klewes seperti biasa. Dan anak-anak cewek keliatan heboh teriak, "Ten, kamu sama Gita masuk semifinal!" Just like a horror scene ha? Aku sih cuman ketawa-ketawa aja karna tahu betul itu adalah hasil bisa-bisaannya Allah aja, dan aku emang nggak bener-bener minat buat mamerin ke orang rumah soal keberuntungan-berselimut-prestasi itu.

Subuh, besoknya, setelah solat jamaah. "Buk aku masuk semifinal."
Dan jder, ibuk langsung heboh. Surprise. Seneng.
Dan yang bikin aku terharu, ibuk berkali-kali ngucapin "Alhamdulillah ya Allah." Tanpa tahu menahu tentang keberuntungan-berselimut-prestasi itu.

Ibuk cepet-cepet sms ayah yang kerja di Lamongan. Pagi itu juga. Sambil bilang, "Ibuk tak sms ayah. Biar ayah seneng, pagi-pagi baru bangun tidur dapet kabar bahagia." katanya sambil main hape. Aku diem aja. Mengikuti jalannya surprise kecil yang ternyata semenakjubkan itu di pikiran ibukku.

Sms balesan masuk. Mbakku bacain, "Alhamdulillah, mudah2 an manfaat dan diberikan prestasi yang lebih baik lagi. Amin."

Buat aku sms itu istimewa. Sms pendek yang aku bayangkan ayahku ngetiknya sambil senyum luebar sambil gelosotan santai di kasurnya. Ayahku bukan tipe orangtua yang deket banget sama anak anaknya, tapi aku tahu dia peduli dalam diamnya. Dia peduli dalam caranya marah pas aku pulang malam. Dia peduli dalam caranya terlihat nggak peduli.
Maka, sudah pantas sms itu istimewa buat aku.

Dan disini aku jadi sedikit kesentuh sekaligus sedih. Nyatanya, aku belum pernah melihat ibuk seheboh itu pas lihat nilai rapor. Atau lihat ayah mengetikkan doa syukur pas aku keterima masuk sma 16. Nggak. Dan itu menjadi semacam... tolak ukur seberapa sering aku bikin mereka bangga... (realitanya, jarang.)

Dan doa-doaku kini mulai melingkar di daerah "buat orang tuaku bahagia dan bangga karena aku, ya allah". Dan aku berharap Allah bener-bener denger dan nggak menyortir doaku yang itu. Karna itu aku sering-sering ngulang kalimat-kalimat serupa di tiap akhir solat. Subuh, duha sampe istikhoroh. Solat yang terakhir ini.... yang bikin aku inget sama sms ayah ke ibuk yang baru aku baca barusan.

"Ma, bilang sama ilma, kalo ragu pilih jurusan, sebaiknya istikharoh saja, biar mantap. Lebih mantap lagi kalo ibunya juga. Insya Alloh."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post!