18.12.11

Sedikit Random tentang Bola & Cinta

“Menurutku, cinta itu kayak sepak bola. Anggaplah, awal pacaran adalah empat puluh lima menit di babak pertama. Di mana para pemainnya masih segar bugar, di mana sepasang kekasih masih berbunga-bunga menjalani hubungan.

Setelah itu, akan ada half time selama lima belas menit, di mana seorang pelatih akan menyusun strategi baru, mengatur pola permainan, mengobarkan semangat para pemainnya, untuk mengalahkan lawan. Dalam hal ini, cinta juga begitu. Saat ada pertengkaran atau masalah di dalam sebuah hubungan, ada baiknya kita memilih untuk break sejenak. Menyusun strategi, mengatur perasaan masing-masing.

Babak kedua di empat puluh lima menit selanjutnya adalah babak penghabisan. Mungkin kalian lebih memilih untuk kembali melanjutkan hubungan itu sampai ‘pertandingan’ selesai. Tapi kalau kalian udah mentok nggak bisa melanjutkan lagi, Kalian boleh mengalah. Kalian boleh biarkan lawan menguasai ball possession tanpa perlawanan. Itu sah. Selama...kalian rela dan yakin nggak akan menyesal nantinya.

Memang menerima kekalahan itu nggak mudah. Kalian pernah lihat gimana lesunya pemain Belanda saat ngeliat tim Spanyol ngangkat tropi Piala Dunia di tribun atas—sesuatu yang juga mereka ingin lakukan. Rasanya miris banget. Pun juga dengan cinta. Kalian mungkin untuk beberapa saat akan terlihat terpuruk dan menyedihkan saat ‘dia’ dengan mudah digenggam tangannya oleh orang lain. Hal yang... sangat kalian rindukan, bukan?

Pemain Belanda memang sempat hancur perasaannya, sama seperti kalian. Tapi kesedihan itu, aku yakin, nggak bakal lama bersarang. Waktu akan membasuh luka. Kalian harus tahu, bakalan ada ‘pertandingan’ lain yang menanti. Bakalan ada ‘sembilan puluh menit’ lain yang akan kalian sambut secepatnya. Kayak Belanda yang mengalahkan lawan-lawannya dengan perkasa di pertandingan-pertandingan internasional selanjutnya. Kayak kalian yang akan mengalahkan semua masa lalu kalian dengan binar mata yang mantap, dan langkah yang tegak.”


“Kalo aku ‘kalah’ lagi?”


“Memangnya ada, pemain yang memulai pertandingan dengan memikirkan kekalahan? Mungkin ada. Tapi pemain semacam itu jelas bukan jenis pemain bermental juara. Dan itu memalukan. Kamu mau jadi ‘pemain’ pesimis? Kalo kamu gitu, aku yakin, nggak bakalan ada ‘tim’ manapun yang mau nerima kamu.”

2 komentar:

Post!