22.12.11

Another Letter

Dr yang tak pernah teraih,

Kamu mungkin sudah berkali-kali menebak isyarat kilasan cahaya di lirikan mataku yang sekejap. Dan mungkin telah berkali-kali pula tebakanmu benar. Dan mungkin telah berkali-kali pula kau membenciku karena lirikanku itu.

Ya ya, aku memang salah. Mencintaimu, sahabat dekat kekasihku. Menggantung rindu tak terucap setinggi langit-langit angkasa. Membungkam suara degup-degup bodoh yang kadang loncat dua irama saat kau melintas tiba-tiba di depanku.

Kamu mungkin sudah tahu sedikit tentang rasa yang kucoba sembunyikan rapat-rapat dalam tidurku yang tak nyenyak. Kamu mungkin berhasil memergokiku mencuri pandang sebentar ke arahmu. Ya, pandangan mataku itulah yang mungkin berhasil kamu terjemahkan ke bahasa cinta tanpa suara. Tapi kamu tak pernah tahu saat pandangan mata ini tak hanya mencuri-curi sosokmu, pandangan mata ini tak hanya berjingkat-jingkat pelan di pinggir sudut kelas. Mata ini terpancang tak berkedip saat kamu meninggalkan game di monitor laptopmu untuk menemui dia.

Ya, dia. Dia yang memiliki nama secantik putri-putri bangsawan eropa. Dia yang kata mereka secantik bidadari, dengan hidung mancung dan mata runcingnya yang indah. Matanya yang menatapmu dengan binar yang nyata dan jujur. Mata yang berani, bukan yang sembunyi-sembunyi.

1 komentar:

Post!