19.11.10

Besar nanti.

Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu

Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu

Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta


Usiaku sudah berubah. Orang bilang aku sudah dewasa. Dan aku belum menemukan kalimatku padamu, Ayah. Aku belum bisa membalas cinta pelitaku, penerang jiwaku.

Aku dewasa, umurku bertambah. Aku manja. Aku belum membalas harapan dalam doa mereka. Tak pernah berjaga demi mereka. Belum pernah tersenyum dengan cinta hanya untuk mereka.

Aku berubah : aku seorang wanita. Aku belum bisa mempersembahkan cintaku semurni cinta yang pernah mereka berikan padaku. Belum jua membalas kasih sayang setulus yang mereka limpahkan...

*) Surat ini mungkin tidak cocok bila kukirimkan sekarang, karena aku memang belum dewasa. Mungkin akan lebih pantas bila kubuat surat semacam ini saat aku benar2 telah dewasa, berumur sekitar... dua puluhan? Tapi, ya, aku nggak pernah ingin suatu saat nanti terpaksa mengirimkan surat ini pada ayah ibuku. Aku nggak ingin benar2 belum melakukan apa yang seharusnya kulakukan : mempersembahkan cinta terdalam untuk mereka.

1 komentar:

Post!